loader image
Discovering ability, hobi baru orang tua

Discovering Ability: Hobi Baru Orang Tua

Saya ingin mengajak semua orang tua mempunyai hobi baru, yaitu Discovering Ability. Hobi ini adalah menjelajah kemampuan anak, meskipun sekecil debu. Maksudnya, selalu memberi pengalaman-pengalaman positif kepada anak kita ketika mereka mengalami momen-momen spesial dalam kesehariannya.

Biasanya, Discovering Ability dapat disampaikan kepada anak kita dalam berbagai bentuk.

Pertama, ketika anak kita melakukan perbuatan baik, berikanlah apresiasi.

Jangan ditunda. Anak kita yang masih kecil, sudah bisa menutup pintu dan jendela rumah kita. Maka langsung kita beri apresiasi. Pujilah perbuatannya, yaitu sudah bertanggungjawab atas keamanan rumah. Pada alam bawah sadarnya, anak kita langsung terbentuk konsep diri (self image) aku bertanggung jawab.

Baca juga:
Manajemen Waktu untuk Anak

Kedua, ketika anak kita melakukan kesalahan yang disengaja atau tidak, jangan langsung memarahinya.

Tegurlah dengan mencari penyebab utama terjadinya kesalahan tersebut. Jika sudah ketemu, jadikan penyebab utama itu sebagai sasaran kesalahan (kambing hitam). Dengan begitu, anak kita akan berpikir bahwa setiap kesalahan pasti punya penyebab, dan penyebab itulah yang harus dihindari.

Contoh kesalahan yang tidak disengaja adalah memecahkan vas bunga dari kristal berharga mahal. Sampaikan dengan teguran positif.

“Lantainya licin, ya? Lain kali hati-hati kalau melangkah dan bawa vas.”

 “Tangannya basah, ya? Harus dikeringkan dulu ya kalau mau pegang vas.”

Banyak orang tua mengatakan kepada saya, bahwa teguran di atas tidak memberikan efek jera kepada anak. Dan, anak yang memecahkan vas tersebut seharusnya dimarahi, dibentak, atau bahkan dipukul. Menurut saya, orang tua tersebut kurang bersabar saja. Dan, buru-buru melakukan discovering disability (lawan discovering ability). Padahal, yang membedakan dua pendekatan itu adalah timbulnya konsep diri dalam kepribadian anak.

Anak yang sering dimarahi, biasanya mempunyai konsep diri negatif. Anak akan berkata kepada dirinya sendiri bahwa “aku nakal”, “aku lemah”, “aku lamban”, dan lain-lain.

Discovering Ability, tidak perlu memarahi anak

Baca juga:
Komidi Putar: Nostalgia yang Meriah dan Menyenangkan

Studi yang dilakukan oleh Elizabeth Gershoff dari The University of Texas menemukan bahwa semakin sering anak-anak dipukul saat kecil, semakin besar kemungkinan mereka akan menentang orang tua dan menunjukkan perilaku anti sosial saat dewasa.

Menurut Gershoff dan timnya, memukul anak berisiko meningkatkan agresi, serta menimbulkan masalah pada perkembangan kesehatan mental dan kognitif anak. Bahkan, anak yang sering dimarahi atau dipukul, akan mengulangi perbuatan buruknya lagi dalam kurun waktu 24 jam. Malah tidak menimbulkan efek jera.

Ketiga, ketika anak kita mampu membuat sebuah karya.

discovering ability, apresiasi untuk karya, kreasi, dan kreativitas anak

Karya apapun yang diciptakan anak kita, maka segera lakukan discovering ability dengan memberikan apresiasi positif atas terciptanya sebuah karya. Jangan didiamkan ketika anak menunjukkan hasil karyanya. Apalagi melecehkan hasil karya anak yang disebabkan bentuknya kurang bagus atau sebab lain. Terus beri semangat anak untuk berkarya lagi.

Ayo para orang tua, munculkan hobi baru yaitu discovering ability ketika anak kita melakukan perbuatan baik, melakukan kesalahan, dan kala dia berkarya. Insya Allah kita menjadi orang tua yang dicintai anak kita. Menjadi orang tuanya manusia.[]

Artikel ini sebelumnya pernah dipublikasikan di laman munifchatib.com.

Yuk, berbagi artikel bermanfaat ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram